Follow:
Thoughts

Catatan Cinta #1

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)


Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri. Untuk seorang Cinta yang berani mengambil keputusan. Berani melangkah dan menghadapi arus yang tak selalu searah. Berani mencoba meskipun berkali-kali juga gagal.

When Every Stars Aligned

Begitu banyak hal yang bisa saya sesalkan di masa lalu, namun begitu banyak pula pelajaran-pelajaran berharga dan kejutan-kejutan luar biasa yang Allah berikan di baliknya. Saya rasa tidak ada yang sia-sia dari sebuah pengalaman. Terlepas dari disengaja atau tidaknya, baik atau buruknya kita melihat pengalaman tersebut, semuanya mengandung makna.

Bagaimana kita menggali dan merangkai makna tersebut, mungkin kalau Steve Jobs yang ngomong, connecting the dots istilahnya… itulah yang akan menentukan seperti apa kita selanjutnya.

Saya bersyukur, Tuhan dan semesta-Nya perlahan menunjukkan titik-titik itu. Apa yang semula nampak samar, kini terlihat lebih terang. Saya yang semula ragu, yang semulanya hanya berpaku pada pedoman buku dan pengalaman orang, kini semakin yakin.

Sejujurnya, saya masih merasa ragu. Ah, apalah Libra kalau gak overthinking, ya kan?

Keraguan ini butuh dibuktikan. Bukan hal yang mudah tentunya, karena saya seringkali diganggu oleh pikiran-pikiran tak menyehatkan, seperti melihat kebahagiaan orang lain di Instagram, misalnya.

Rumput Tetangga yang (Katanya) Lebih Hijau?

Let’s not fake it.

Saya juga manusia. Setiap melihat pencapaian teman-teman atau saudara, tentu saya juga bisa iri. “Kok saya gini-gini aja ya?”,tentu rasa itu selalu ada. Merasa tertinggal. Merasa jauh dari ideal.

Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang :3

Katanya, membanding-bandingkan itu gak baik buat mental health. Jika ini adalah advice seorang dokter, mungkin seperti obat yang diresepkan tapi tak akan saya minum. Saya akan terus membandingkan.

Bagi saya, membandingkan diri saya dengan orang lain adalah sebuah wake up call. Banyak yang bilang bahwa semestinya kita membandingkan diri kita sendiri, saya juga sepakat. Tapi, tanpa punya barometer yang ‘tepat’, you will not go anywhere.

Tahun ini, saya mulai lebih cermat memilih barometer itu.

You are Who You Choose to Look Up to

Saya terinspirasi dari para atlet yang berjuang setiap hari untuk mencapai level mastery. Banyak dari mereka yang punya idola, dan bermimpi bahwa suatu hari nanti akan berkompetisi dengan idolanya tersebut di level dunia. Sesuatu yang indah menurut saya. Bahwa perbandingan tersebut memicu seseorang untuk melakukan usaha yang keras dan konsisten. Saya ingin seperti itu.

Saya akan mencoba lebih tegas untuk menolak segala macam perbandingan yang tak relevan dengan tujuan hidup saya. Tidak semua pencapaian teman-teman dan saudara saya, harus saya jadikan barometer. Tidak semuanya relevan dengan saya. Justru ketika saya melakukannya, disitulah motivasi saya mulai bergeser. Dan saya tahu, ini akan menjadi kegagalan pertama saya.

Sebetulnya, saya agak bergetar saat mengetik hal ini. Ya, keputusan untuk meng-unfollow distraksi-distraksi itu adalah keputusan yang sulit. Distraksi ini bukan hanya mereka yang saya anggap memiliki pencapaian yang menggiurkan, namun juga mereka yang saya rasa menyebarkan hal-hal bernada kebencian.

Whatever!

Di tengah dunia yang membutuhkan orang-orang penuh empati dan berdedikasi, ocehan tersebut bagi saya terasa basi. Udah bukan jamannya menjatuhkan sesuatu/seseorang untuk menunjukkan posisi diri. Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya.

Saya rasa setiap orang akan menemukan ‘momentum’-nya masing-masing. Bukankah kita semua bergerak menuju kesana?

Saya yang penuh keraguan ini juga tidak tahu bilamana keputusan saya tahun ini akan membawa saya ke arah yang saya inginkan. Saya selalu berdo’a minta Allah agar ridho terhadap saya. Saya selalu minta do’a ibu dan bapak, karena barangkali do’a mereka yang lebih diijabah ketimbang saya yang miskin amal ini.

Tapi satu hal yang membuat saya yakin. Usaha tak pernah mengkhianati hasil. Tuhan tak pernah lepas dari umat-Nya yang senantiasa bersyukur dan beribadah padanya. Tuhan akan menjaga jiwa-jiwa mereka yang bertaqwa. Biarlah keraguan saya saat ini menjadi sebuah benefit of the doubt, untuk suatu hari nanti saya buktikan dengan sebuah karya bagi masyarakat.

Selamat hari lahir, Cin!

Semoga sesuai hastag-nya ya, #28GoingRight. Ini saya sisipkan foto bersama salah satu figur leader yang ingin kamu teladani kemampuannya. Semoga suatu saat gap kesungkanan itu akan terkikis jika kamu sudah mencapai mastery di bidangmu kelak!

With mas Aakar Abyasa, CEO of Jouska, yang lebih WOW daripada yang orang-orang kira.

Aaamiin yaa Allah yaa Rabbal ‘alamiin.

Feature image: Sirio Berati on Unsplash.



Share:
Previous Post Next Post

You may also like

2 Comments

  • Reply Ifa

    Syukak sekali…”berani mencoba meskipun berkali-kali gagal”
    Btw postingan ini dalam rangka hari lahir mba cinta yaa..
    Yaumul milad mba cinta barakallah fii umurik..

    October 3, 2019 at 12:43 am
    • Reply Cinta

      iya mbaaa hehehe, terima kasih ya mbaa semoga segala yang baik-baik berbalik juga untuk mba Ifa 🙂

      October 3, 2019 at 4:19 pm

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: