Follow:
Cinta Bercerita

Into the Unknown

Lagu “Into the Unknown” terdengar viral berkat Frozen 2 yang release beberapa minggu menjelang akhir tahun. To be honest, saya baru bener-bener amazed dengan lagu ini setelah nonton penampilan Lyodra di Indonesian Idol. Soundtrack Frozen kali ini yang lebih mature bikin saya jadi mikir, bukankah kita semua sedang berjalan “into the unknown”?

The Unknown

Tulisan ini merupakan tulisan awal saya di 2020. Menjelang tahun baru beberapa minggu yang lalu, sebenernya ingin banget nulis tentang sedikit refleksi selama 2019 atau bahkan satu dekade (wow, ambisius banget anda 👏🏽👏🏽👏🏽) tapi gajadi karena tulisan blog sebelumnya seputar pengembangan kualitas SDM Indonesia belum selesai. Jadilah semua catatan resolusi dan refleksi mengendap di notebook belaka.

Tahun baru tiba dan jreng jeeeeng…. tak diduga tak dinyana, Jadetabek banjir! Banjirnya parah banget. Kawasan yang biasanya gak pernah banjir ikut kebanjiran. Airnya masuk sampe ke rumah, sampe setinggi dada orang dewasa. Di beberapa titik bahkan rumah-rumah sampe terendam dan mobil BMW kebawa arus. Sampai saat tulisan ini dibuat, beberapa daerah ada yang masih dalam proses recovery.

Konon katanya, kalau hujan di malam pergantian tahun tandanya bakalan banyak rejeki. Entahlah ini maknanya tahun 2020 kita semua akan banjir rejeki atau apalah apalah, saya merasa awal dekade ini seakan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa alam udah mulai jengah sama ulah kita-kita para manusia yang hobinya berbuat kerusakan. Sad indeed.

Seperti pergantian tahun di tahun-tahun sebelumnya, saya gak pernah punya keinginan untuk menghabiskan New Year’s Eve di luar rumah. Selain karena macet, I think that moment is very personal. Inginnya di rumah aja sama keluarga dan banyak-banyak berdo’a. Because we never know what kind of ride we’ll face this year and ahead. Gak tau bakalan ada krisis apa, gak tau bakalan ada masalah apa, gak tau juga 2020 nanti akan mengubah kita menjadi seperti apa.

Terlalu banyak “unknown factor” yang gak bisa kita prediksi. Dengan segala perubahan iklim, kondisi sosiografis dan psikologis masyarakat yang mulai berubah dengan teknologi, dan segala faktor geopolitik lainnya yang too big too ignore. Entahlah….. it’s just felt so hard to begin this 2020.

Change is inevitable, but personal growth is optional

Regardless of what kind of changes that we might face this year, saya ingin tetap ingat bahwa saya harus terus maju. Perubahan itu sesuatu yang gak bisa kita tolak, seringkali juga sulit kita kontrol. Tapi gimana kita merespon dan me-manage diri kita untuk beradaptasi, itu skill yang harus kita miliki. Step pertama yang penting adalah bersyukur.

Satu kalimat yang selalu jadi pegangan saya, adalah kata-kata dari mbak Prita Ghozie Financial Consultant favoritku. Dia selalu mengulang-ulang perkataan ini: “Jangan cari yang gak ada, tapi selalu syukuri apa yang ada”.

Sederhana, tapi makjleb banget.

Kebiasaan membanding-bandingkan mendorong kita buat mengubah standar kita, sehingga seakan-akan kita nih gak punya apa-apa atau gak bisa ini itu. Bersyukur, sebuah latihan seumur hidup. Bersyukur bukan saat sadar doang, tapi setiap hari, setiap jam dan menit bila perlu. Mengaktifkan kesadaran untuk count our blessings terlepas apapun yang terjadi di luar sana.

Bersyukur gak cuma dalam dimensi rasa, pikiran, atau ucapan. Tapi juga perbuatan. Kalau saya ngomong bahasa beratnya, manifestasi dari rasa syukur ya mesti ada aksinya. Kita bersyukur dikasih waktu, kesehatan, bisa jalan, bisa melihat. Ya pergunakanlah waktu kita selagi sehat untuk melakukan kegiatan yang positif.

Kalau dihitung-hitung, sepertinya manifestasi rasa syukur kita bisa jadi jauh lebih sedikit dibandingkan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Mungkin di hati dan pikiran kita udah mengucap syukur, tapi di perilaku kita masih gak konsisten. Seperti saya, masih suka gak pede sama kemampuan diri sendiri. Masih suka gak efektif time management-nya. Dan masih masih lainnya yang gak bisa saya tulis satu persatu disini.

The more I write about it, the more I realize

Tahun 2020 ini saya punya beberapa resolusi. Salah satunya adalah practicing gratitude. Berhubung saya orangnya gampang banget stress, saya lakukan praktek ini untuk mengurangi beban di pikiran juga. Prakteknya gampang, hanya menuliskan 3 hal yang disyukuri setiap harinya, sebelum tidur. Yang jadi tantangan adalah gimana menjadikan ini sebagai habit selama 366 hari ke depan.

Ada 2 aplikasi yang saya install di hp untuk membantu saya tracking. Namanya Stories dan Delightful. Di Stories, saya lebih banyak bercerita, it’s like a mini blog with a Mood Tracker. Goalsnya selain saya berusaha untuk latihan mengekspresikan diri, juga untuk mendalami bagaimana perkembangan dan perubahan emosi diri saya pada stimulus tertentu.

Sedangkan di Delightful lebih sederhana. Cukup tulis 3 hal yang disyukuri pada hari itu, setiap harinya. Saya sendiri gak mau terlalu ambisius. Untuk Stories, saya tulis santai se-ingetnya, tapi untuk Delightful saya coba untuk disiplinkan tiap hari. Let’s see gimana hasilnya di penghujung 2020 nanti.

Meanwhile, di tulisan ini saya ingin coba highlight sedikit apa saja hal-hal yang terjadi dan saya syukuri selama 2019 kemarin. Sebagai pengingat bahwa 2019 itu tahun pertama pernikahan saya dan suami, dan saya telah berhasil melewati tantangan-tantangan baru di episode rumah tangga #KimCi ini.

First Semester of 2019

1. Resolusi Clean Eating

Di awal tahun, saya dan suami bertekad untuk hidup lebih sehat. Saya sih khususnya yang ngerasa kalau selama ini saya terlalu banyak mengonsumsi produk-produk instant dan segala processed food. Setelah denger podcast dan baca beberapa buku seputar Clean Eating, saya ingin banget belajar supaya bisa mengubah pola makan saya.

Alhamdulillahnya suami saya itu seneng banget makan makanan sehat. He ditch all kind of snacks. Gak pernah tergoda nyicip ciki-cikian atau stik-stik cokelat. Buat dia, ya snacking itu makan buah. Beda banget sama saya yang jarang makan buah karena kepengen, seringnya makan buah karena harus.

Resolusi belajar hidup lebih sehat ini juga ditunjang dengan tes-tes kesehatan dasar yang kita lakukan rutin setiap 3-4 bulan sekali. Sengaja, biar evaluasi diri terus kalau kolesterol tiba-tiba mendekati ambang batas atau kadar gula naik. Terbukti, ada urgensi lebih buat berubah kalau liat hasil tes ga seberapa bagus. Dan ada apresiasi juga, perasaan happy dan motivasi buat jaga kesehatan pas liat hasil tesnya bagus.

Alhamdulillah, selama setahun ini ada beberapa hal yang berhasil saya capai. Salah satunya: terbebas dari Indomie! Yesssssss bye byeeeeeee mie kuah ayam bawang kesayangan hikkssssss. Selama setahun kemarin, tidak satupun Indomie saya sentuh.

Apakah saya gak makan mie sama sekali? Tentu tidak.

Saya masih makan mie kok, tapi saya ganti ke Lemonilo karena bahan-bahannya lebih sehat. Itupun tetap saya batasi maksimal seminggu sekali. Saya juga masih makan gluten kokk, masih mengkonsumsi sphagetti dkk. Prinsip saya dan suami, kami gak mau berubah ekstrem. Kami ingin belajar dan berubah pelan-pelan, menyesuaikan kondisi tubuh dan kebiasaan yang udah terpupuk bertahun-tahun lamanya.

Keberhasilan lainnya, saya cuma nyentuh ciki sekitar 1-2x selama setahun. Itupun karena lagi dinas di luar kota dan minta punyanya temen. Gak pernah ada ciki di belanjaan bulanan saya dan suami. Sekarang kebayang gurihnya ciki juga enggak.

Wafer dan semua biskuit favorit saya (buat yang kenal seorang Cinta pasti tau mereknya apa hahahaha) udah jarang saya konsumsi. Kalaupun saya cemilin, sebungkus bisa habis berminggu-minggu sampe kelupaan. Beda banget sama Cinta yang dulu, kalau lagi moody atau ngantuk, bisa banget tuh nyemil 1-2 bungkus biskuit sehari.

2. Masak Setiap Hari

Yes, you heard it right!!!

Seorang Cinta yang pemalas bisa bangun pagi dan masak tiap hari Yaa Allah!! Buat saya ini pencapaian yang luar biasa banget. Bisa belanja sayur tiap minggu, masak dengan apa yang ada di kulkas, nyobain resep-resep baru dari mulai bikin gyoza sampe nasi kuning paket lengkap. Saya gak nyangka saya bisa setelaten ini, meskipun sering juga ngeluhnya.

Kenapa saya ingin bisa masak tiap hari, karena saya ingin seperti ibu saya. Ibu adalah career woman yang gak pernah lupa tanggung jawabnya di rumah. Kita gak pernah punya ART. Anak-anaknya juga gak serajin itu sih beberes dan masak (bahkan saya dan adik dijauhkan dari dapur sejak kecil supaya fokus belajar). Terus siapa yang beres-beres, masak, bayar tagihan dan ngontrol anak-anak? Ya ibu. Ibu saya bisa ngerjain semuanya meskipun dia juga bekerja dari subuh sampe malam.

Meskipun saat ini saya belum dititipin keturunan (and I’m chill about it), saya ingin banget menghadirkan “warteg & resto” di rumah. Saya ingin dari mulai suami sampe anak-anak saya kelak gak suka makan di luar karena lebih suka masakan ibunya. Walaupun mungkin ibunya ntar kewalahan kalau banyak tugas kantor, saya ingin keluarga saya terbiasa sama masakan rumah, sebagaimana saya dan suami yang lebih enjoy makan di rumah daripada di luar.

Oiya belajar masak ini bukan tanpa drama ya hahaha. Masaknya sih gampang, nyiapin dan beradu sama waktu itu yang susah. Beberapa kali saya kesiangan, atau masak kelamaan sehingga bekel suami harus saya gosend. Iya, di gosend beb. Lumayan bayar 15rebu buat gosend doang. Soalnya si Yeobo gak mau beli di kantin kantornya. Entah saya harus senang karena suami prefer masakan saya, atau saya harus kesel karena dia ribet banget jadinya malah keluar duit lebih kan….. (padahal salah siapa jugaaaak yang bangunnya kesiangan wkwk).

3. Rajin Nulis Blog at Least 1 Bulan Sekali

Jujur,, yang ini saya gagal hahaha. Ada 2 bulan yang kosong karena saya banyak deadline kantor. Tapi kalau diitung-itung sih ada lebih dari 12 tulisan di tahun 2019, hehehehe ALASAAAANN!!! Ya pokoknya tahun ini gak boleh gitu lagi!

Ternyata menulis blog rutin itu sulit ya. Bukan hanya menguji konsistensi, tapi disuruh nulis pas lagi gak mood juga sulit BANGET. Oh well.

Anyways, selain nulis blog, tahun 2019 ada progress yang lumayan juga sih seputar per-blog-an ini. Saya mulai belajar SEO dari Tech in Asia Edu dan alhamdulillah saya pernah juga ngerasain juara lomba blog hehehehe. Yah lumayan lah yaaaa meskipun DA/PA masih ngerangkak, setidaknya diriku bergerak maju. SIAPPPP GRAKKKKK.

Second Semester of 2019

1. Kembali Belajar Bahasa Korea

Ini keinginan saya sejak bertahun-tahun yang lalu dan saya pendam dalam-dalam gegara teman-teman semasa studi dulu menganggap segala sesuatu per-Korea-an itu negatif. Konotasinya mulai dari anak galau, baper, kecanduan drama dan boyband, fanatik lah…. macem-macem.

Padahal, saya cinta bahasa Korea for the sake of its languages. Saya sudah bisa baca tulis hangeul sejak SMA, dan saya ikutan komunitas belajarnya meskipun satu-satunya anak SMA pada masanya. Saya pernah punya mimpi ingin jadi seorang polyglot. Bukan biar keren, tapi yaaa emang secinta itu dengan berbagai variasi bahasa khususnya di Asia.

Nah kebetulan banget di Surabaya ada kelas gratisnya di Rumah Bahasa. Akhirnya saya ikutan dan alhamdulillah gak harus mulai dari awal, langsung masuk ke tata bahasa gitu. Wah gilasihhh jiwa un-learn ini mulai bangkit. Sekarang saya bisa berempati teman-teman yang baru banget belajar bahasa Inggris di usia 20-an sulitnya gimana. Sulit, tapi seruuu.

2. Persiapan Studi Lanjutan

Ini salah satu resolusi yang boleh dibilang… pending.

Saya gak mau bilang gagal, karena saya merasa keputusan studi lanjutan ini masih immature. Setelah berdiskusi dengan teman-teman, senior, dan mentor saya, sepertinya saya mulai berubah pikiran.

Sampai detik ini, saya masih ingin kok kuliah lagi. Yang namanya belajar itu gak ada batasan waktu atau umur. Saya cuma gak pengen keputusan saya berangkat karena desakan “sosial”, gengsi, perasaan tersaingi apalagi cuma ingin merasakan hidup di luar negeri. Saya ingin dengan saya sekolah lagi, saya bisa melahirkan penelitian serta karya ilmiah yang hasilnya bisa dinikmati dan menjadi solusi bagi permasalahan-permasalah sosial. Masalah yang real, bukan prospektus yang dibuat-buat di Motivation Letter.

I don’t want to push myself too hard. I want to enjoy this journey, this process of me transforming my knowledge and my skills. Meanwhile, I dedicate my time to work on things that matter, in a place that could lead me to be close to what I am passionate about. I believe that any decision I will take is just a matter of timing. I want to trust the process and be as close as possible to the problems that I should solve with my capacity and power.

Menariknya, malah si Yeobo yang mengusulkan untuk lanjut sekolah lagi. Sebenernya ini juga part of our plan, tapi Yeobo ingin mempercepat rencananya untuk mendalami bidang per-data dan per-statistikan yang bikin dia jatuh cinta dan kadang lupa sama istrinya itu. Ya saya sebagai istri hanya bisa support dan berdo’a (cieeeee). Jadilahhhh kita pindah lagi doong dari Surabaya ke Jakarta.

What’s in Store for 2020

Hmm apa yaaaaaa? Rahasia. wkwkwk~

Sejujurnya gegara banjir kemarin, saya ingin banget terlibat buat usaha perbaikan lingkungan. Ada beberapa rencana yang udah dipikirin, semoga ada jalannya buat kesitu. Tapi overall, mungkin selama satu dekade ke depan, saya ingin banget lebih connect ke alam. Ngerasa berdosa selama ini banyak hal yang take it for granted dari apa yang Allah kasih ke kita melalui makhluk-makhluknya.

Resolusi-resolusi lainnya gak muluk-muluk. Sederhananya, apa yang sudah dilakukan di 2019 bakalan saya lanjutin dan perbaiki. Makan, masak, dan tidur dengan lebih baik dan lebih sehat. Nulis blog lebih konsisten dan lebih rajin. Belajar Korea lebih intensif dan tertarget. Merencanakan pengembangan karier yang lebih terarah.

Overall, semoga kita semua bisa menjalani 2020 dengan lebih sehat dan lebih mindful. My personal wish, semoga 2020 membawa saya memiliki hubungan yang lebih berkualitas dengan banyak orang, dengan alam semesta, dengan keluarga dan orang-orang terdekat, dan terutama…hubungan yang lebih baik dengan Sang Pencipta.

Aaamiin Allahuma Aaamin.

Feature image: Frozen 2.





Share:
Previous Post Next Post

You may also like

No Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: