Follow:
Thoughts

KADIN sebagai Motor Penggerak SDM Unggul

Pelaku industri dalam negeri terus menghadapi sejumlah tantangan. Perekonomian global yang masih belum stabil turut berpengaruh pada perkembangan industri dalam negeri. Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih menjadi faktor yang menghambat laju perekonomian global. Di tengah-tengah persaingan tersebut, SDM Indonesia memiliki sejumlah peluang dan tantangan yang harus kita hadapi. Dalam hal ini, Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) memiliki peran yang strategis dalam mendorong lahirnya SDM Unggul Indonesia.

Peluang vs Tantangan Kualitas SDM Indonesia

Sebenarnya, perang dagang ini menyimpan peluang besar yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia mengingat sejumlah pabrik di Tiongkok akan direlokasi ke Asia Tenggara. Sayangnya, Tiongkok lebih memilih Vietnam dibanding Indonesia.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai ada beberapa alasan investasi China lebih tertarik ke Vietnam. Salah satu alasan mengapa Indonesia tidak dilirik adalah karena SDM di Indonesia dianggap kurang kompetitif. Sementara, SDM di Vietnam dinilai lebih mumpuni dengan keahlian yang sudah disiapkan dari berbagai kebutuhan industri.

Tenaga kerja Indonesia dianggap masih belum berkompeten untuk menjawab berbagai macam kebutuhan industri. (Foto: Unsplash).

Selain tantangan eksternal, sejumlah tantangan dari dalam negeri masih menjadi PR bersama. Tantangan tersebut meliputi defisit neraca berjalan, defisit neraca perdagangan, defisit anggaran belanja, masalah perizinan usaha, masalah kemiskinan, kualitas sumber daya manusia, fundamental struktural, seperti efisiensi dan produktivitas hingga lapangan kerja.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan bahwa Indonesia masih banyak membutuhkan SDM vokasi unggul yang memiliki kompetensi dan sertifikasi profesi. Struktur SDM Indonesia masih dinilai mengkhawatirkan.

Total tenaga kerja di Indonesia sekitar 130 juta orang, tapi 40 persennya berlatar belakang pendidikan sekolah dasar. Sebanyak 18 persen berasal dari SMP. Tenaga kerja yang berhasil lulus diploma atau universitas hanya 12-13 persen. Struktur tenaga kerja seperti ini diragukan untuk bisa bekerja secara produktif, mampu beradaptasi secara cepat, dan mendorong competitiveness industri.

Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup menantang di bidang pengembangan SDM Unggul.

Rekomendasi RAPIMNAS Kadin Indonesia 2019

Sesuai dengan visinya, Kadin Indonesia terus berkomitmen menjadi pilihan pertama dan utama dalam mewakili suara dan kepentingan dunia usaha beserta seluruh stakeholders-nya, berkaitan dengan pembuatan dan implementasi kebijakan ekonomi di seluruh Indonesia.

Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia 2019 telah dilaksanakan selama 2 hari dan menghasilkan 18 poin rekomendasi dari pengusaha untuk memperkuat dunia usaha dan perekonomian nasional. Dari sejumlah rekomendasi tersebut, terdapat beberapa rekomendasi yang berkaitan peningkatan kualitas SDM Indonesia.

  1. Keberlanjutan Akreditasi Penerbitan Sertifikat (Surat Keterangan) Kompetensi;
  2. Penguatan kerja sama kemitraan antar lembaga, antar korporasi dan antar daerah;
  3. Kadin menjadi motor kegiatan vokasi dan dikoordinasikan antara kementerian/lembaga terkait.

Menurut Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P. Roeslani dalam acara penutupan Rapimnas Kadin pada 29 November 2019 mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan yang mampu menciptakan lapangan kerja yang layak, mengurangi tingkat kemiskinan, dan mengurangi ketimpangan ekonomi.

Akreditasi Kompetensi SDM Indonesia

Salah satu rekomendasi yang dihasilkan oleh Kadin Indonesia adalah membuat keberlanjutan Akreditasi Penerbitan Sertifikat (Surat Keterangan) Kompetensi. Dokumen ini penting untuk memastikan SDM yang diserap oleh industri memang berkompeten dan memiliki value bagi perusahaan tempat dia bekerja.

Dalam penerbitan sertifikat ini, SDM juga perlu dibangun kesadaran pentingnya soft-skill selain peningkatan kompetensi yang bersifat hard skill. Kemampuan yang perlu dikuasai SDM Indonesia dapat merujuk pada hasil analisis LinkedIn tahun 2019. Hasilnya, perusahaan cenderung mencari kandidat yang menguasai kombinasi dari  hard skill dan soft skill.

Top 10 Most Wanted Skills in 2019 (versi Linkedin Learning)

Kreativitas berada di posisi pertama dalam daftar keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan.  Selain kreativitas, menurut Linkedin, ada empat soft skill lain yang diminati perusahaan dari calon karyawannya, diantaranya yaitu persuasi atau kemampuan untuk meyakinkan orang lain, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, dan manajemen waktu. World Economic Forum (WEF) memandang posisi berbagai skill tersebut cenderung akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu dengan proses pembelajaran yang aktif, kreativitas dan pengaruh sosial juga akan meningkat dalam daftar tersebut.

Selain beberapa soft skill dari LinkedIn  di atas, SDM Indonesia juga perlu memiliki kesadaran berikut ini:

1. Menanamkan Global Mindset pada SDM

Persaingan SDM sekarang bukan lagi dengan lulusan kampus dalam negeri atau tenaga kerja Indonesia secara umum. Dengan berlakunya sejumlah peraturan perundang-undangan, SDM harus siap untuk bersaing dengan SDM dari luar negeri.

SDM Indonesia juga harus memiliki pemahaman kondisi perekonomian global. Hal ini penting, mengingat para pemberi kerja yang juga merupakan pelaku usaha adakalanya menghadapi sejumlah tantangan bisnis. Dengan terciptanya komunikasi dan pemahaman yang baik, SDM kita diharapkan akan lebih bijak dalam menuntut kenaikan gaji tiap tahunnya.

Pemahaman global mindset menjadikan SDM lebih mawas dengan tantangan perusahaan tempat dia bekerja, seperti kondisi inflasi maupun persaingan industri di tingkat regional. Harapannya, pemahaman ini membuat SDM kita lebih fokus untuk meningkatkan produktivitas dan daya saingnya untuk keberlangsungan industri. Sebab, tuntutan gaji yang terlalu tinggi berpotensi membuat investor ragu untuk berinvestasi ke Indonesia.  

2. Menghidupkan Sikap Kompetitif dan Produktif pada SDM

Daya saing industri bisa dicapai bila didukung oleh SDM yang produktif dan kompetitif. Hal ini tidak bisa dimaknai sempit dengan persaingan jumlah jam kerja saja. Inovasi, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi, serta manajemen waktu semestinya bisa menjadi variabel untuk mengukur competitiveness level dari SDM kita.

“Jena”, adalah robot yang menjelma sebagai pramusaji di Hotel Jen di Orchard Gateway, Singapura. Robot ini telah aktif beroperasi sebagai pembawa makanan atau perlengkapan yang biasa dibutuhkan oleh tamu hotel yang memesan room service. Foto: Business Insider.

Disaat teknologi dan otomatisasi mulai menggantikan pekerjaan-pekerjaan manusia, kita tidak bisa menutup sebelah mata terhadap potensi perubahan struktur tenaga kerja di masa mendatang. Jika berpegangan pada prinsip “kerja keras” saja tanpa diimbangi “kerja cerdas” dan soft-skills penunjang lainnya, maka kita bisa kalah dari robot di masa depan yang dirancang lebih efisien dan lebih akurat untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Tentunya potensi tantangan di masa depan ini tidak bisa kita abaikan.

Memperkuat Kolaborasi KADIN dengan Lembaga Vokasi

Angka lulusan pendidikan vokasi yang belum terserap industri masih cukup tinggi. Padahal sejak awal pendirian, pendidikan vokasi diharapkan mampu memutuskan gap kebutuhan antara dunia usaha dengan institusi pendidikan. Melihat fakta demikian, peran Kadin semakin terasa dibutuhkan.

Kadin bisa menjadi jembatan antara pelaku usaha di tingkat nasional hingga daerah agar mampu berkomunikasi dengan lembaga vokasi. Hal ini sejalan dengan salah satu misi Kadin, yaitu: KADIN bersama serikat pekerja dan dunia pendidikan menciptakan sebanyak-banyaknya “tenaga siap pakai” dengan kualifikasi internasional.

Sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk menyelaraskan lembaga vokasi dengan kebutuhan di dunia industri:

1. Revitalisasi kurikulum yang adaptif dengan kebutuhan dan tantangan industri

Kurikulum bukanlah menyusun sebuah kitab pendidikan yang kaku. Kurikulum harus sensitif terhadap perubahan. Jurusan yang dibuka, materi yang diajarkan, cara mengajarkan materi, dan cara menguji kompetensi haruslah adaptif. Penyusun kurikulum dan pelaksana kurikulum – dalam hal ini adalah guru – harus duduk bersama pemangku kepentingan dan para pelaku usaha. Tanpa mengesampingkan pendidikan moral, kepribadian, dan soft-skill, para pelaku pendidikan harus terbiasa dengan perubahan sejalan perubahan di dunia industri yang mengarah ke revolusi industri 4.0.

Salah satu sekolah vokasi yang memiliki konsentrasi di bidang animasi adalah SMK Raden Umar Said, Kudus. Animasi merupakan bidang yang cukup diminati dan dibutuhkan oleh industri kreatif masa kini. Foto: Liputan6.com

Kadin sebagai pemersatu pelaku usaha tanah air memiliki peran penting dalam pengembangan kurikulum vokasi. Selain mendorong para pelaku usaha untuk membuka kesempatan magang bagi siswa vokasi, perkembangan teknologi yang saat ini berkembang pesat memiliki potensi untuk dikembangkan. Contohnya, perkembangan teknologi web development yang mulai marak diterapkan di industri. Hal ini pasti sudah mulai menjadi perhatian oleh pelaku industri dan Kadin. Sebagai wadah para pelaku usaha, kebutuhan skill-skill baru ini bisa diadministrasikan dan ditransfer secepatnya ke lembaga vokasi.

2. Pemerataan cakupan industri dalam pendidikan vokasi

Industri yang paling banyak disuplai dan diminati dalam pendidikan vokasi saat ini cenderung kepada industri manufaktur, seperti: otomotif, elektronik, kimia, dan lainnya. Meskipun demikian, industri manufaktur bidang otomotif juga perlu disesuaikan dengan market otomotif sekarang dan di masa yang akan datang. Jika kedepannya otomotif berkembang menjadi kendaraan listrik atau bahkan self-driving car, sudah siapkah siswa-siswi kita menghadapi perubahan ini? Jika tetap mengacu pada industri model lama, maka lulusan vokasi juga akan sulit diserap oleh industri.

Cakupan industri perlu diratakan dan adaptif. Pemerataan industri yang dicakup oleh pendidikan vokasi harus lebih luas untuk mengelola potensi-potensi yang dimiliki oleh Sumber Daya Alam Indonesia. Misalnya, industri pariwisata, pertanian, dan perikanan yang juga perlu disuplai SDM-SDM unggul dari pendidikan vokasi. Selain itu, potensi industri kreatif dan digital berkembang cukup pesat.

Kadin memiliki peran strategis untuk menjembatani pemerintah, lembaga pendidikan vokasi, serta pelaku industri untuk menginisiasi jurusan-jurusan vokasi baru yang lebih matching dengan kebutuhan industri. Melalui kolaborasi Kadin dan pemerintah, perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam kelompok industri tertentu difasilitasi untuk mendirikan lembaga vokasi secara mandiri. Misalnya, perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam industri kreatif dapat mendirikan akademi, institut, sekolah tinggi, kursus, atau bentuk sekolah lain untuk melahirkan SDM-SDM unggul. Begitu pula, kelompok industri lain dapat mendirikan lembaga vokasi secara mandiri. Dengan demikian, suplai SDM akan lebih merata dan sesuai kebutuhan industri tanah air.

3. Mempertegas peran Kadin sebagai motor kegiatan vokasi antara dunia usaha dengan lembaga pendidikan

Sejalan dengan rekomendasi Rapimnas Kadin Indonesia 2019, diharapkan Kadin mampu menjadi motor kegiatan vokasi. Untuk mencapai itu, penguatan kolaborasi antara Kadin, pelaku usaha, pemerintah pusat dan daerah, serta lembaga vokasi sifatnya urgent untuk dilaksanakan.

Salah satu bentuk kolaborasi yang ditunggu, yaitu adanya forum semacam link and match yang berkesinambungan antara lembaga vokasi dan pelaku usaha. Forum yang diharapkan dapat menghadirkan pengusaha nasional hingga daerah bersama para stakeholder pendidikan vokasi ini mampu menjadi salah satu cara bagi Kadin untuk memperkuat perannya sebagai penghubung dan motor penggerak kegiatan vokasi. Serta melalui forum seperti ini, penyesuaian kurikulum secara adaptif akan lebih mudah tercapai.

Penguatan peran Kadin dapat dilegalisasi dengan adanya Permendiknas, khususnya keterlibatan Kadin untuk penyesuaian kurikulum lembaga vokasi. Sehingga, pengembangan kurikulum bukan hanya menjadi wewenang pihak sekolah atau Dinas Pendidikan terkait. Namun jika memungkinkan, Kadin di tingkat daerah dapat terlibat aktif untuk memberikan masukan bagaimana kurikulum vokasi yang dibutuhkan oleh kalangan pelaku industri. Lembaga vokasi akan lebih mudah memastikan kualitas lulusannya yang siap diserap industri. Di sisi lain, pelaku industri juga akan lebih mudah mendapatkan SDM-SDM unggul yang match dengan kebutuhan industrinya.

Selain itu, pengadaan sertifikasi juga dirasa perlu agar SDM lulusan vokasi yang telah melalui serangkaian pendidikan, pelatihan, dan magang ini memiliki daya saing di industri tempatnya bekerja. Sertifikasi ini dapat menjadi benchmark bagi pelaku usaha untuk menilai kapasitas dan kapabilitas SDM tersebut, serta di sisi lain memberikan jaminan upah minium kepada tenaga kerja yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Peran Kadin Sebagai Motor Penggerak Sekolah Vokasi.

Kesimpulan

Terciptanya SDM unggul membutuhkan peran serta seluruh pihak, baik Kadin, pelaku usaha, lembaga pendidikan vokasi, pemerintah pusat dan daerah, serta masyarakat Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi global serta transformasi industri 4.0, secara perlahan menuntut industri untuk terus berubah.

Perubahan di seluruh industri ini tentunya membutuhkan SDM-SDM yang unggul. Peran Kadin sebagai motor penggerak vokasi sekaligus penghubung pelaku usaha dan lembaga vokasi sangat penting. Melalui kolaborasi yang berkesinambungan seluruh stakeholder, maka akan mudah menghasilkan SDM-SDM yang unggul untuk Indonesia yang lebih produktif. ***

Feature image: Hobi Industri.

Share:
Previous Post Next Post

You may also like

12 Comments

  • Reply Khoirul Anwar

    Thank you mbak sharing topik ini…

    January 1, 2020 at 2:20 pm
    • Reply Cinta

      Sama-sama mas

      January 2, 2020 at 3:33 am
  • Reply Dwi Indah

    Kadang suka sedih lihat para pekerja di negara kita ini. Tiap tahun menuntut naik gaji, tapi tidak diiringi kenaikan produktifitas kerja mereka. Semoga ada perbaikan mindset.

    January 2, 2020 at 4:10 am
    • Reply Cinta

      Memang idealnya ada kenaikan upah yang terjadi tiap tahun, karena biar gimanapun, income yang naik memicu pertumbuhan ekonomi juga dan berkontribusi ke PDB negara khususnya faktor konsumsi masyarakat. Tapi dari sisi pemilik usaha, idealnya kenaikan upah juga seiring dengan kenaikan tingkat produktivitas dari pekerjanya. Jadi gak bisa dari satu pihak aja ya kerjasamanya…harus sistemik emang.

      January 5, 2020 at 6:17 am
  • Reply Heri Listianto

    Betul, lembaga vokasi harus segera dibenahi. Sedih lihat lulusan SMK yang menganggur. Padahal mereka dicetak supaya ‘siap kerja’.

    January 5, 2020 at 3:01 pm
    • Reply Cinta

      Jangankan SMA, yg kuliah aja banyak yang nganggur ya.. hiksss. Memang tuntutan industri harus terus diupdate supaya sebelum lulus, SDMnya udah bener-bener disiapin sesuai kebutuhan industri.

      January 8, 2020 at 4:14 pm
  • Reply Floor Hardener Banjar

    Salut untuk pihak-pihak yang sudah bekerja keras dan mengabdi untuk masyarakat, tetap semangat!

    January 7, 2020 at 8:11 am
    • Reply Cinta

      SEMANGATTT terima kasih sudah mampir ke tulisan ini 🙂

      January 8, 2020 at 4:15 pm
  • Reply dita

    semoga Kadin lebih semangat lagi untuk menggerakkan sdm kita. tentunya perlu didukung jg oleh berbagai pihak, utamanya dari sekolah-sekolah.

    January 16, 2020 at 11:01 pm
    • Reply Cinta

      Betul mba..kerjasamanya butuh peran dari banyak pihak

      January 29, 2020 at 3:08 am
  • Reply Edward R.

    Kadin Indonesia memang punya peran yang vital bagi ketersiapan tenaga kerja kita. Tapi membaca data angkatan kerja diatas, nampaknya kurang fair dan kurang berdampak jika hanya pendidikan vokasi yang diutamakan untuk membangun SDM unggul. Faktanya, sistem pendidikan kita gagal mencetak SDM yang skillful. Butuh revolusi besar-besaran dari hulu. Kita Berharap besar pada pemimpin muda seperti pak Nadiem.

    January 27, 2020 at 5:55 am
    • Reply Cinta

      Kalau berbicara peningkatan kualitas SDM secara holistik, betul mas kalau variabelnya ada banyak. Pendidikan vokasi hanya salah satu dari sekian banyak variabel tersebut.
      Jika fokusnya adalah penyerapan tenaga kerja, memang sekolah vokasi itu yang paling cepat dan paling berdampak, itu juga yg jadi standar kenapa Human Capital Index menyelipkan kategori sekolah vokasi.

      Revolusi besar-besaran betul dibutuhkan, namun tidak juga melupakan peran dari stakeholder lain tidak hanya Kementerian Pendidikan. Karena sistem pendidikan yang dibuat juga harus berangkat dari kebutuhan angkatan kerja – dimana hal ini harus diakomodir dan diupdate terus menerus. Salah satunya Kadin sebagai “jembatan” dengan penyedia lapangan kerja dan stakeholder lainnya yang berpengaruh. Intinya kolaborasi sih.

      January 29, 2020 at 3:13 am

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: