Follow:
    Drakor, Review

    Review Cunning Single Lady: a Korean Rom-Com.

    Truthfully, I am not a fan of rom-com especially in form of series just because I do not want to be drown with too much emotions. I feel like my life has been full of drama so consuming another drama would rub more salt to my wounds (lebay :P). So yes, I am extremely picky in choosing what series to watch. If it’s not going to make me either happy, motivated, or gaining new perspective, it’s not worth my time. I’ll just skip it.

    Long story short, I was stumbled upon this recommended list of series about break up – make up / divorcee based theme and found this drama: “Cunning Single Lady” on top of their recommendation. Awalnya agak males, I thought this would just be another cheesy drama that will make you cries eventually. But I found this genre quite interesting. Divorce is all about heartbreak but why comedy?

    Well, why not?!

    (Please mind a little spoiler here).

    poster short

    Cunning Single Lady (2014).

    Title: Cunning Single Lady/Sly and Single Again/Devious Divorcee (앙큼한 돌싱녀 / Angkeumhan Dolsingnyeo. Director: Ko Dong-sun, Jung Dae-hun. Writer: Lee Ha-na, Choi Su-yong. Starring: Lee Min-jung, Joo Sang-wook, Kim Gyu-ri, Seo Kang-joon Date: 2014. Episode: 16 Eps. Distributor: MBC

    Synopsis

    Cunning Single Lady berkisah tentang hubungan antara Na Ae-ra (Lee Min-jung), anak perempuan dari pemilik kedai rice soup di Seoul yang menikah dengan Cha Jung-woo (Joo Sang-wook), seorang mahasiswa Engineering School yang rajin makan di kedai ibunya. Keduanya memutuskan untuk hidup bersama setelah Jung-woo lolos seleksi bekerja menjadi civil servant dan saat itu Na Ae-ra merasa impian hidupnya tercapai dengan menjadi seorang full-time housewife.

    They live happily together, sampai pada hari ke-100 pernikahan mereka, Jung-woo memberi tau istrinya bahwa ia baru saja resign dari kantornya karena ingin mendirikan sebuah start-up. Na Ae-ra yang anti dengan bisnis gegara bapaknya selalu gagal, merasa terpukul dan akhirnya ia harus banting tulang untuk mengcover household fares keluarga. Sayangnya, bisnis Jung-woo belum juga membuahkan hasil setelah 4 tahun berusaha. Ae-ra yang telah bekerja pontang-panting pun menyerah dengan beban finansial keluarga yang semakin bertambah. Di puncak desperado itulah ia akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan Jung-woo.

    Tiga tahun berpisah, ceritanya takdir mempertemukan mereka kembali. Na Ae-ra yang minim background pendidikan masih struggle dengan pekerjaannya sedangkan Jung-woo telah menjadi seorang chaebol, CEO of a multi-billion dollar IT Company dengan DonTalk, a Whatsapp-like communication platform yang punya 10 juta users aktif di Korea. Merasa dikhianati, Na Ae-ra yang meng-claim bahwa ide bisnis free text messaging service berasal dari dirinya, akhirnya mendatangi Jung-woo untuk misi balas dendam. Di sisi lain, Jung-woo melihat Ae-ra sebagai perempuan materialistis yang hanya mencintai dirinya for the sake of his wealth. Merasa terkhianati janji pernikahannya untuk setia dalam susah dan senang, Jung-woo bertekad untuk ‘showing off that I can succeed without you’ dengan harapan Ae-ra akan menyesal karena telah menceraikan dirinya.

    Plot & Characterization

    Awalnya saya berpikir kalau rom-com ini bakalan banyak menceritakan perjalanan cinta Ae-ra dan Jung-woo sampe bisa cerai kayak gimana. I was totally surprised it was wrapped up in just 1 episode! Jadi dari awal series udah ketauan konflik utamanya apa dan what happen after the big incidence. Kita udah dikasih tau siapa subjek dalam konflik dan kepentingan masing-masing apa. I was surprised since ini kan romance story, I thought I will be drown into sadness saat mereka pisah after being given numerous lovey-dovey scene. Ternyata enggak.

    I was totally blown away on how straight to the point the story was, dan kita gak digantungin buat nunggu konflik utamanya apa. Kita bisa melihat bagaimana Ae-ra dan Jung-woo yang hostile on each other and how they struggle to live their life after the divorce.

    Alurnya apik dan easily followed, meskipun beberapa kali kita disajikan alur flashback ke masa lalu karakter utama dan pendukung. Semua loop cerita dibuka satu per satu sesuai timingnya. Kita akan semakin melihat sebab di balik perceraian mereka dan dilemma apa yang terjadi antar keduanya hingga konflik yang terjadi ketika mereka bertemu kembali dalam situasi yang tak terduga.

    Hal lain yang saya suka itu karakterisasinya. Biasanya kalau nonton drama, I tend to take sides in certain character. Dari awal udah nentuin mau dukung tokoh yang mana (buibuk banget yha haha). Cuma makin kesini, saya melihat perspektif yang berbeda dari Ae-ra dan Jung-woo, which makes their character much more interesting and complex than I thought.

    Ae Ra

    Na Ae-ra out of her desperation.

    Sebagai perempuan, Ae-ra menginginkan kehidupan yang stabil dan bahagia sebagaimana mimpi perempuan-perempuan lainnya di dunia. I found her to be problematic in the beginning of the story, especially that she’s going after Jung-woo after all this time when he’s on the top of the mountain. Meanwhile, Jung-woo is the new chaebol in town yang berjuang dari nol and dumped by his wife in his toughest moment. Saat bertemu Ae-Ra, Jung-woo menunjukkan sikap yang luar biasa dingin (as if they’ve never met before). This ex-couple drew resentment toward each other and I found this very pitiful.

    Hal yang menarik adalah, “Cunning Single Lady” is not a story of ‘a cunning-single-lady’ y’all. Semakin mengikuti jalan ceritanya, saya melihat Ae-ra sebagai perempuan yang strong, after all that she’s been through with Jung-woo. I can see how much effort and sacrifice she has made to maintain her family well-being, and how she grows as an individual; from a newly-blind-lover, a dedicated wife, and a woman who has to endure pain and heart-break during her toughest period.

    Di sisi lain, I can see Jung-woo, a man who dreams to be The Next IT Leader of Korea as a promising and charismatic leader yet he suffers a big hit of desperation and loneliness that he questioned whether his success is essential. I saw that on top of their sentiment toward each other, they hold a deep scar upon their relationship.

    ae ra & jung woo before reconcile

    Ae-ra & Jung-woo before fate turns their life upside-down.

    Jujur, salah satu alasan yang membuat saya enggan nonton drakor itu karena ceritanya yang kadang terlalu lebay atau kisah cinta yang terlalu maksa. I am glad that I didn’t find any of these reasons in ‘Cunning Single Lady’. You will see the reason behind their divorce is totally make sense and that can happen to anyone of us, begitupun dengan dinamika hubungan mereka ketika mereka bertemu kembali.

    Ini yang membuat ‘Cunning Single Lady’ worth to watch meskipun ga banyak plot twistnya dibandingkan drakor lainnya. Selain fokus cerita yang real, OTP memiliki karakter yang dalam dan sangat baik dalam membawa berbagai karakter tersebut dalam 1 peran yang legit.

    I also love on how this rom-com creates its emotional balance in each episode. Ada kalanya kita akan disajikan scene yang bikin gemes gegara liat betapa egoisnya Ae-ra/ Jung-woo, ada kalanya scene yang cukup emosional (dan saya rasa masih manusiawi), tapi ada kalanya kita dibikin ngakak gegara perilaku kocak mereka meskipun tema perceraian ini kesannya berat (good job, CSL team!). Tiap episode terasa ringan dan enjoyable, but deep inside it still offers us a big silver lining on to the story 🙂

    Actors Performance

    I am totally impressed by Lee Min-jung and Joo Sang-wook! 😀 They are both outstanding and incredible OTP as leading actors. They are adorable yet amusing at the same time. (Seriously, abis nonton CSL saya langsung googling loh mereka main drama apa aja, and yesss drama mereka on my next watch list huahahaha~~).

    Jung Woo

    This guy loves to overhearing people’s convo 😀

    JSW totally steals the show throughout the entire episode. We can see him grow from a goofy unattractive Jung-woo to a self-made billionaire with leadership charisma that every girl on the company has her crush upon. Yet he still remains a man whose feeling are weak and very dependable when it comes to Ae-ra.

    Performance JSW ini natural dan ngena banget, perpindahan karakternya gak kerasa maksa kayak drakor yang pemeran utama cowoknya hostile, tiba-tiba jadi baik dan perhatian saat tau ceweknya suka sama dia. I was impressed on how JSW can differentiate his positioning on a scene where he is a geeky developer (gemes parah haha~), a devoted husband, a cold-charismatic leader, and when he has to pull it all together.

    Setelah nonton CSL, saya baru tau ternyata this is the first time JSW act in a rom-com! This is very impressive, I should say, since he has to deal with many amusing scene which makes him looks more adorable in audience eyes (kalau ada yang udah pernah nonton JSW di “Good Doctor“, bakalan kaget liat JSW yang bisa begini). Meskipun ada scene-scene dimana dia harus bertingkah konyol, sama sekali gak ngerusak image dan kharisma dia as the CEO of Dontalk. I also love on how the way he present himself when he rekindle his relationship with Ae-ra. We can see that he is afterall, still a geeky-righteous Jung-woo who only has one love in his life.

    ae ra temper

    Her temper is aigoooo~!

    Lee Min-jung in none of the least exceptional. She managed to deliver her emotion flawlessly. She totally gave her all to show us how broken she is. Di awal episode, I can see her cunning side that win her mind, and how she’s eagerly set up a revenge scheme on Jung-woo. Semakin kesini, LMJ memperlihatkan kemahirannya mendeliver scene dengan output yang lebih mendalam, dimana dia mampu menunjukkan sosok Ae-ra yang tegar dan thoughtful di tengah segala cobaan yang menerpanya.

    I am totally pleased especially to the part (SPOILER) when Ae-ra stands for her choices to take the chance for Shilla’s job interview despite how bad Jung-woo wanted her to stay. I am glad that the writer of this drama doesn’t bring the story to the part where a woman will fall for a man when he confess (not to mention in a romantic ambience kind of set-up) – instead, Ae-ra being exceptionally rational with her decision to prioritize her needs of life-survival rather than thinking about love at that time.

    The way she talks to Jung-woo doesn’t makes us emotional with no sense. Every time she talks about her past, I feel like I wanna hug her right away. I feel like I can see her pain and her sincere desire. Dialog demi dialog terasa nyata, as if Ae-ra is our BFF who shares her thought and story to us. Semua emosi yang diperlihatkan natural dan gak berlebihan, bikin saya ngerti why she can feel that way. Together with JSW, LMJ presented a great chemistry of Ae-ra and Jung-woo, making them an adorable yet unfortunate couple of the story.

    Yeo jin

    I wish I could see more of her leadership insight.

    Buat supporting cast, Gook Yeo-jin (Kim Gyu-ri) dan Gook Seung-hyun (Seo Kang-joon) team-up sebagai kakak beradik dari keluarga broken home yang berada tapi minim kasih sayang. Yeo-jin dicitrakan sebagai female leader yang cerdas, berambisi namun fragile due to her past husband death. Saya sangat menikmati cara Kim Gyu-ri mengesankan seorang wanita elegan yang berusaha tetap bijak di segala situasi, namun terlihat sangat rapuh on managing her expectations to Jung-woo. She could’ve made a great competitor to Ae-ra, only that she didn’t given much lines to express her feeling in a more explicit way. Otherwise, as an audience I can only pity her, rather than giving her credit for her attempt to win over Ae-ra.

    seung hyun

    Idola remaja jaman jigeum~

    On the other side, Seo Kang-joon tampil sebagai tipikal cowok-cowok Korea idola-remaja-jaman-jigeum yang muda, ganteng, kaya, cerdas tapi santai yang berusaha memenangkan hati Ae-ra despite of their 8 years age differences. Menurut saya performancenya cukup nendanglah buat disandingin sama Joo Sang-wook as his hyung, and competitor. I didn’t have any complain to him, bahkan I truly enjoy how he irritates Jung-woo with his natural upbringing. No wonder he received a “Best New Actor” in 7th Korea Drama Awards.

    Other supporting acts menurut saya biasa aja tapi cukuplah untuk melengkapi bumbu drakor ini. Overall, great cast and character! I am so happy to see every characters grow and change in such a subtle way.

    Soundtrack

    What is a Korean Drama without a great OST in it? Ini elemen terpenting yang bikin baper hahaha. Tapi seriously, I LOOOVE all the tracks! Dan the way they “play-pause-stop” the tracks di tiap scene itu that caught us off guard. Like I’ve said before, awalnya ragu banget ini gimana ceritanya drakor ngomongin perceraian tapi dibikin romantic comedy kan…dan menurut saya soundtracknya ngena banget! Pemilihan lagu apa, buat tokoh yang mana, di scene apa, itu pas! As if they made their song for this drama only (eh iya gak sih? :D)

    Oiya satu lagi. Lirik lagunya! Itu sesuai banget sama scene-nya. Karena saya nonton pake subtitle Inggris dan saat lagu diputer itu muncul penggalan liriknya, jadinya kerasa banget tiap scene ambience-nya mau dibawa kemana dan makna di balik scene tersebut makin terasa kedalamannya.

    What I Will Miss the Most

    elevator broken

    Lovesickness

    There are many part of the scene that I truly keep in mind and heart. Not only because it is very funny or heartwarming, I just can’t resist on how clever the writer spare put each spot to be a scene an audience will always remember. But here are some of them:

    1. Elevator scenes! 😀 Scene-scene ini emang tipikal ‘those you’ll only see in K-Dramaland’ kind of scenes, tapi semuanya bikin gemes. Hahahaha. It’s a rom-com afterall 😉
    2. JSW awkward laugh. Like seriously. It happens. Every. Single. Time.
    3. Ae-ra’s cunning fantasy. I wish they had put more scenes of revenge though…I just love how they hate each other they look very funny.
    4. Ae-ra & Jung-woo’s deep conversation. It’s always heartwarming to listen to their chit-chat. I just love how they manage to deliver each thoughts and feelings flawlessly, like a real couple will do in a real life (heart-melted).

    What I Wish I Saw More

    Endingnya terlalu cepet! I feel like they should put at least 1-2 more episodes so they have more room to wrap up the Guk family story. Meskipun cerita Guk’s family ini mungkin sekedar gimmick, tapi menurut saya cukup menarik melihat gimana keluarga chaebol struggle mempertahankan keluarga mereka.

    Also, Yeo-jin’s resolution. Jujur sepanjang drama saya simpati banget sama dia meskipun not entirely taking sides on her. I thought that she is strong-willed and capable, she deserve to be given more credit to her character. Tapi pas ending cerita, ga seberapa ter-explore. Sayang banget 🙁

    Final Appraisal

    Overall, if you love K-drama that is well-written, gak lebay, gak terlalu fantasy tapi meaningnya dapet banget dan tetap menghibur, I bet you’ll love Cunning Single Lady! However, if you prefer drama dengan cowok flower-boyish, casting yang lebih girly dan tema yang lebih chic-lit, I don’t think this drama is for you.

    Also, if I can give credit where its due, I truly appreciate how Cunning Single Lady potrays woman as an equal counterparts with the male lead. Di drama ini, saya melihat wanita yang strong seperti Ae-ra despite of her lack of education yang willing to sacrifice herself for the sake of her family (and husband’s initiatives). Saya juga melihat Yeo-jin sebagai female leader yang punya positioning despite of her disability, growing under a broken family and having a broken past. Even, Jung-woo sebagai male CEO diberikan line untuk mengapresiasi how Yeo-jin will make as a great leader in the company. Since banyak drakor yang menurut saya fokus di perempuan as an object for male’s love interest, I think I need to give Cunning Single Lady special appreciation for this! 🙂

    Finally, will I re-watch this in the future? Definitely for sure!

    Rating from me: 8.5/10 ***

    Share:
    Thoughts

    Insecurities.

    It is actually hard to explain something that you see as a weakness within yourself. Talking about quarter-life crisis is never easy. I feel like I’m in the middle of a crossroad. People are walking very fast, yet you see so much vehicles moving in their own direction. You stand there alone wandering in your own train of thoughts.

    This is not meant to be a difficult post, really. But is it normal to feel this? I mean, people in my age are either running toward their dream jobs/careers or maybe enjoying one. Some might have started a family or planning to marry their loved one. Some are still searching. Some are taking higher level of study. Some…perhaps just like me, are wandering.

    Don’t get me wrong. I do have a plan: career, study, marriage, etc – you name it. But this just feels like everything I plan and do might not always occurred like I want to. Normal? Yes. Like those “how-to-become-successful” quotes, maybe the best are yet to come.

    But no. I am not able to feel that ‘safe’. I feel like I just haven’t work hard enough, I feel like there’s so much things in this world I need to take care of and I am just a useless human being trying to look good on social media.

    You see, this isn’t easy to be explained. This isn’t a dilemma between taking a master degree v. marrying a good man. This isn’t a dilemma between marry at the young age v. becoming a career woman. I am sick of those feeds on Facebook that shared, talked in a status, and debated over and over. I am sick of that analysis that polarize those who decided to have an early marriage as traditionalist Moslem v. those who chose career and study over marriage as feminist. Just stop it. It doesn’t have anything to do with your life y’all.

    Yes, I am that uncool when it comes to talk about life choices. I am not cool because I refuse to take sides to any of the choices. Because it doesn’t matter. Whether you choose either one of them, you will face its own challenges and it’s always fair, right? If you marry young and have a lot of kids, that’s okay. You’ll do great in learning parenting, family management with your spouse on how to sustain your family well-being and education. You will be the forefront of nurturing the next generation that will later make a difference.

    If you chose to run your own start-up, working as a Junior to Senior-level position in multinational company, running your own business, taking a Master, Doctoral, Post-Doctoral degree over building a family in your age, that’s okay. You’ll do great in paving your way to your dream career and prepare yourself with best education to later create something meaningful for this world.

    Even if you can do both at the same time: that’s okay. You know what’s best for you and you are free to achieve whatever it is that you’ve been dreaming.

    However though, I guess whatever choices we make will not always please everyone. That’s just the way it is. You’ll get criticized, ‘nyinyir’, comments from someone who doesn’t even know you. Maybe this what makes us insecure. The fear that we will not be able to live well under judgement over particular ‘social standard’.

    In my 26th year, I let myself feeling this vulnerable. I do not want to live in people’s expectation – I do not want to expect anything from anyone either. I believe that life is good when we only expect from God and believe in His way. I know and He knows what I’ve been through and that’s enough. I know and He knows what I’m aiming for and that’s enough.

    I am also thankful that I have the best supporting system surround me. Someone who can understand why I am trembling over certain things, someone who can listen to my emotions, someone who can challenge my perceptions, someone who truly inspires me in their daily basis.

    To that, I am beyond grateful.***

    photo_2017-10-09_19-07-41

    Share:
    Thoughts, Uncategorized

    Kereta Api: Masa Lalu, Kini, dan Nanti

    Diantara semua moda transportasi yang pernah saya cicipi, kereta api menjadi favorit saya. Yes, I am a proud Railfans! Semenjak saya lahir dua puluh enam tahun yang lalu, saya sudah sangat akrab dengan kereta. Maklum, orang perantauan meskipun sebetulnya masih sama-sama di pulau Jawa. Ibu saya orang Kebumen yang ikut Bapak kerja di Bandung. Saya dan adik saya lahir dan besar di Bandung. Paling tidak setiap satu atau dua tahun sekali, kami berkunjung mengunjungi mbah di desa menggunakan transportasi kereta api.

    Fast forward dua puluh tahun mendatang, ternyata saya diterima di salah satu kampus di kota pahlawan, Surabaya. Waktu saya masih TK, saya sering bernyanyi lagu “Naik Kereta Api” tapi belum pernah sekalipun benar-benar merasakan “ke Bandung – Surabaya” seperti yang sering dinyanyikan dulu. Ketika saya kuliah, akhirnya kesampaian juga naik kereta ekonomi Pasundan yang dulu jadwal berangkat dari Stasiun Kiaracondong pukul 05.30 pagi dan tiba di Stasiun Surabaya Gubeng sekitar pukul 11.00 malam. Yup, almost 18 hours on train!

    Saat ini, sudah tiga tahun pula saya merantau. Setelah lulus kuliah, alhamdulillah saya diterima bekerja di Jakarta. Kereta ternyata masih menjadi sahabat tercinta. Di tengah-tengah kondisi kota metropolitan dengan segala kemacetan dan pembangunan infrastruktur disana-sini, KRL menjadi saksi perjuangan saya meraih rezeki di ibukota. Tak hanya itu, meskipun jarak Bandung – Jakarta sebetulnya cukup dekat dan dapat ditempuh dengan bus kota atau travel, saya lebih cinta naik Argo Parahyangan. Rasanya tak ada yang bisa mengalahkan pemandangan dari atas jembatan Cimacan dan Cisomang apalagi jika kita berada di perjalanan pagi atau sore hari. Jika kita mencoba melihat dari balik jendela, rasanya seperti terbang jarak rendah. Bikin deg-degan, tapi pemandangannya worth it!

    IMG_20170704_163940

    Pemandangan di atas jembatan Cimacan dari KA Argo Parahyangan

    Kereta api menyimpan banyak sekali kisah bagi saya. Di kereta api lah saya bisa merasakan budaya masyarakat Indonesia yang sesungguhnya. Kereta api membawa saya melepas penat untuk sejenak merenung dan berpikir bebas sembari menikmati perjalanan malam. Sepanjang usia saya, selama itulah saya bersama kereta api.

    Saya merasakan betul bagaimana PT. KAI bertransformasi. Dari yang awalnya saya dan Bapak harus mengantre berjam-jam bahkan kadang rebutan untuk medapatkan tiket mudik, hingga booking online yang membuat Bapak saya sebagai generasi baby boomers tercengang saking canggihnya. Sampai sekarang saya selalu terngiang ekspresi lucu Bapak saya ketika mengantar saya check in dari Stasiun Bandung menuju Jakarta, sembari bertanya, “Itu kamu masukin kode gitu aja pasti dapet tempat duduk? Kamu udah bayar?”. Maklum lah, terakhir kali Bapak saya naik kereta Bandung – Kebumen, tulisan di tiketnya masih tertera “TANPA_TMP_DUDUK”.

    ciwi ciwiiii

    Perjalanan dari Bogor – Sukabumi dengan KA. Siliwangi

    Tak hanya tempat duduk. Saat ini stasiun menjadi lebih rapi. Bahkan, ada live-music yang disajikan setiap hari untuk menemani para penglaju sambil menunggu kereta. Berbeda dengan kondisi stasiun sepuluh tahun silam dimana tidak ada batasan bagi penjemput/pengantar dengan calon penumpang. Saya ingat sekali saya dan adik saya pernah hampir ketinggalan kereta dari Kutoarjo gara-gara saat itu penuh sesak untuk sekedar mencari kereta dan naik ke gerbong. Belum lagi harus berdesak-desakan naik ke kereta sembari membawa bawaan yang tidak sedikit. Sudah selamat naik kereta, eh malah tidak dapat tempat duduk. Terpaksa kami harus keliling gerbong untuk meminta sedikit space kepada penumpang yang sudah duduk.

    Melihat transformasi PT. KAI saat ini, saya cukup bangga dengan perubahan-perubahan positif yang senantiasa dilakukan baik dari segi pelayanan, fasilitas, kapabilitas SDM, dan infrastruktur. Stasiun-stasiun KRL semakin rapi dan modern, WC umum di tiap stasiun sudah lebih bersih dan nyaman, serta cabin crew yang sangat helpful seperti layaknya pramugari dan pramugara pada maskapai penerbangan.

    Walaupun demikian, di era disruption ini, nampaknya perubahan bukan lagi kewajiban, melainkan adalah sebuah keniscayaan khususnya menghadapi ‘lawan-lawan tak kelihatan’. Meskipun saat ini kereta api masih menjadi moda transportasi utama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, bukan berarti ke depan PT. KAI tidak akan memiliki pesaing. Seperti yang dilansir oleh Tech in Asia, Elon Musk sang inventor telah menggagas alternatif transportasi baru bernama Hyperloop Transportation Technologies (HTT) yang kabarnya sudah memasuki tahapan studi kelayakan di Indonesia. Teknologi ini mengklaim mampu membawa penumpang dari Jakarta ke Surabaya hanya dalam waktu 2 jam saja!

    Karena itulah saya rasa PT. KAI harus terus berinovasi dalam melahirkan hal-hal yang baru dan menarik bagi para railfans maupun masyarakat secara umum meskipun saat ini ‘ancaman’ tersebut belum terlihat nyata. Begitulah jaman ini cepat berubah. Perusahaan sekelas Kodak dan Nokia yang sepuluh tahun lalu masih berjaya saat ini sudah tinggal nama.

    Sebagai railfans, saya sangat excited setiap ada inovasi baru dari PT. KAI. Desain interior kereta yang baru, promo-promo menariknya dan perbaikan infrastruktur stasiunnya. Namun, saya berharap ke depan ada perubahan-perubahan menarik yang layak dicoba untuk mendapatkan pengalaman berkereta api yang lebih menyenangkan lagi. Berikut ini beberapa harapan saya:

    1. In-Train Wi-Fi (internal Wi-Fi di dalam gerbong kereta api)

    Sinyal adalah hal utama yang sampai saat ini masih menjadi masalah bagi para penumpang saat bepergian dengan kereta api, khususnya saat kereta sedang melewati daerah-daerah pedalaman. Hal ini menjadi kendala khususnya bagi kaum professional yang masih harus menyelesaikan tugas kantor mereka di tengah perjalanan dan melakukan koordinasi dengan sesama rekan kerja di kantor.

    Ketika saya harus menghadiri wisuda keluarga saya di Surabaya, saya membawa laptop saya sepanjang perjalanan karena saya harus mengirimkan sejumlah email ke kantor dan berkoordinasi untuk mempersiapkan acara besar. Saat itu saya menggunakan kereta Argo Bromo Anggrek yang berangkat pukul 08.00 pagi dari Stasiun Pasar Turi karena saya kehabisan tiket untuk berangkat di malam hari. Alhasil, saya harus menggunakan jam kerja produktif saya di kereta. Alangkah nikmatnya jika ada akses internet di dalam kereta api sehingga saya mudah untuk berkomunikasi dengan rekan kerja di kantor.

    Tak hanya itu, layaknya inflight wi-fi yang terdapat di dalam pesawat, in-train wi-fi juga dapat berfungsi untuk menikmati layanan entertainment yang dimiliki oleh PT. KAI. Saya membayangkan bahwa kelak penumpang bisa mengakses hiburan gratis seperti film, video music, buku digital, hingga games melalui sebuah aplikasi maupun web via ponsel penumpang dengan menggunakan kode booking masing-masing penumpang. Dan semuanya gratis!

    2. Aplikasi KAI Access All-In

    Meskipun saat ini sudah tidak ada penjual makanan maupun oleh-oleh yang masuk ke kereta, namun terkadang saya merindukan sosok mereka karena mereka mengingatkan saya untuk membeli makanan khas daerah yang saya lewati untuk keluarga dan teman-teman. Sejak pedagang tidak boleh lagi masuk stasiun, saya tidak pernah lagi membawa brem Madiun, bakpia Jogja, maupun lanting Kebumen ketika saya pulang ke Jakarta/Bandung dari Surabaya maupun sebaliknya. Meskipun pihak restorasi kereta api sebetulnya menjual makanan dan oleh-oleh tersebut, saya terlalu malas untuk pergi ke restorasi dan memesan disana. Pihak pramugari kereta pun tidak setiap jam keliling gerbong, sehingga terkadang kalau saya lapar, saya lebih memilih untuk menahannya ketimbang jalan ke bagian restorasi. Ya begitulah, saya termasuk ke dalam 80% masyarakat Indonesia masa kini yang inginya serba praktis.

    Andaikan saja ke depan nanti aplikasi KAI Access tidak hanya menjadi alat untuk memastikan perjalanan kita atau check-in saja, tetapi juga tersedia fitur untuk memesan makanan dan oleh-oleh! Bisa juga digunakan ketika kita ingin membeli obat (misalnya: tiba-tiba perut mules atau masuk angin tetapi lupa membawa obat, atau badan kedinginan sehingga perlu menyewa selimut), maka kita tidak perlu capek-capek berjalan ke restorasi. Kita tinggal pesan lewat aplikasi seperti pesan makanan via GO-FOOD atau GO-MART ala aplikasi Gojek.

    3. Kereta Wisata bagi Sejuta Umat

    Ide ini sebetulnya bukan datang dari saya. Beberapa bulan yang lalu, saya berkesempatan memfasilitasi sekelompok peserta training dari PT. KAI di Rumah Perubahan Rhenald Kasali. Pada salah satu sesi, ketua kelompok yang saya fasilitasi (beliau saat itu menjadi Kepala Stasiun Besar Yogyakarta) mempresentasikan ide untuk memanfaatkan fasilitas gerbong-gerbong PT. KAI yang berstatus idle untuk digunakan sebagai kereta wisata yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

    Menurut saya ide ini cukup brilian! Semua tipe kereta sudah saya coba kecuali kereta wisata karena harganya tidak terjangkau di kantong saya. Memang idealnya kereta ini untuk rombongan, seperti halnya rombongan keluarga selebriti maupun pemerintahan. Namun alangkah luar biasanya jika fasilitas ini pun dapat dinikmati oleh masyarakat luas dan dapat dilakukan booking semudah booking online saat ini. Perjalanan mudik keluarga besar dapat dilalui bersama-sama dengan gerbong wisata. Bahkan perusahaan yang akan melakukan studi banding, pelatihan, maupun segala perjalanan bisnis ke luar kota tetap bisa bonding dengan sesama rekan kerja di dalam gerbong wisata yang lebih ‘mempersatukan’ ketimbang gerbong-gerbong biasa. Proses diskusi dan rapat pun tetap dapat dilakukan dengan mudah di dalam kereta. Seperti halnya yang dilakukan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati bersama jajaran staffnya.

    Jika saya harus memaparkan kecintaan saya terhadap kereta-api rasanya tak cukup sampai disini. Sudah tujuh puluh dua tahun PT. KAI berkarya dan menghubungkan jutaan umat manusia di Indonesia untuk bertemu dengan sanak-saudara, merantau ke berbagai kota, dan menyambung rindu saya pada pasangan tercinta. Maklum, saya LDR (Long Distance Relationship) survivor. Meskipun tiket pesawat sudah lebih terjangkau, buat saya, kereta api masih tetap juaranya.

    Selamat ulang tahun ke-72 PT. Kereta Api Indonesia! Semoga senantiasa berinovasi dan terus lekat di hati.***

    Feature image: Google.

    Share: